Tradisi Tadarus yang Menghidupkan Desa Bekut
Ramadan di Desa Bekut selalu memiliki suara khasnya sendiri. Begitu salat Isya dan Tarawih berjamaah selesai ditunaikan, suasana desa tidak lantas senyap. Dari pengeras suara Masjid Al-Ikhlas (atau surau-surau kecil di lingkungan kita), mulai terdengar lantunan ayat suci yang bersahutan. Itulah Tadarus, tradisi yang menjadi denyut nadi spiritual warga Bekut setiap tahunnya.
Bagi kita di Desa Bekut, tadarus bukan sekadar rutinitas membaca Al-Qur'an. Ia adalah momen di mana lelahnya bekerja di kebun atau sawah seharian seolah luruh digantikan oleh ketenangan batin.
Bagi warga Desa Bekut, tadarus bukan hanya mengejar target jumlah khataman. Ini adalah cara mereka "Mengetuk Pintu Langit" secara berjamaah. Ada keyakinan bahwa desa yang di dalamnya senantiasa dibacakan Al-Qur'an akan dijauhkan dari balak dan dilimpahi keberkahan hasil bumi.
Tradisi ini membuktikan bahwa di tengah arus digitalisasi, suara otentik dari surau-surau di Desa Bekut tetap menjadi magnet yang kuat untuk memulangkan setiap jiwa pada ketenangan spiritual.
Tadarus di Desa Bekut bukan sekadar urusan lisan, tapi juga soal keramahtamahan. Setiap malam, warga secara sukarela dan bergantian mengantarkan "kue talam" atau penganan khas Sambas lainnya ke masjid.
-
Tradisi Saprahan: Terkadang, setelah tadarus mencapai target juz tertentu, warga berkumpul untuk makan bersama secara saprahan (duduk lesehan berkelompok).
-
Kopi dan Kekeluargaan: Aroma kopi hangat dan camilan tradisional menjadi pelengkap diskusi ringan usai mengaji, mempererat ikatan antar tetangga yang mungkin jarang bertemu di hari biasa karena kesibukan bertani atau bekerja.